Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

LFNU Ajak Muhammadiyah Bersatu dalam Sidang Itsbat

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) mengajak organisasi Muhammadiyah bersatu dalam sidang itsbat penetapan awal bulan kalender Hijriyah terutama Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah bersama Departemen Agama dan seluruh organisasi Islam di Indonesia.

Dalam waktu dekat akan diadakan pertemuan antara LFNU dengan Majelis Tarjih Muhammadiyah di Kantor Pusat Dakwah Muhamamdiyah Jakarta sebagai kelanjutan dari pertemuan-pertemuan sebelumnya. Pertemuan terakhir kemarin diadakan di kantor PBNU Jakarta pada Selasa (2/10).

Ketua LFNU KH Ghazali Maroeri menyatakan, titik temu antara NU dan Muhammadiyah dalam hal penetapan metode penentuan awal bulan Hijriyah sudah semakin terang.

LFNU Ajak Muhammadiyah Bersatu dalam Sidang Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)
LFNU Ajak Muhammadiyah Bersatu dalam Sidang Itsbat (Sumber Gambar : Nu Online)

LFNU Ajak Muhammadiyah Bersatu dalam Sidang Itsbat

“Kami sudah merintis hal itu. Kami mengatakan kepada Mejelis Tarjih bahwa jangan melihat NU-nya, tapi ini adalah urusan masyarakat banyak. Namun memang soal keyakinan itu tidak bisa dirubah sekaligus,” kata Kiai Ghazali kepada Belajar Muhammadiyah di Jakarta, Ahad (14/10).

Ada beberapa hal yang akan dibincang secara serius dengan Majelis Tarjih Muhammadiyah mengenai dalil-dalil syar’i berkaitan dengan penentuan awal bulan Hijriyah, terutama pada soal definisi “hilal” yang menjadi patokan utama penentuan awal bulan sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Belajar Muhammadiyah

“Sangat mungkin kita ketemu karena Pak Fatah Wibisono (pengurus Majelis tarjih Muhamadiyah yang membidangi persoalan falakiyah, red) adalah alumni pesantrennya Kiai Bisri Syamsuri (Pesantren Denanyar Jombang, red). Kami sering menyebutnya Muhammadiyah cabang Denanyar,” kata Kiai Ghazali bergurau.

Sementara itu berbagai fihak berharap semua ormas Islam di Indonesia tidak mengumumkan penetapan awal Syawal sendiri. Penetapan awal syawal harus disepakati bersama dalam sidang itsbat.

Ketua Umum Pengurus Pusat Jamaah Al-Khidmah H Hasanuddin berharap Muhammadiyah tidak mengumumkan keputusan awal bulan sebelum sidang itsbat. “Apakah etis keikutsertaan Muhammadiyah dalam sidang itsbat yang akan menetapkan tanggal 1 Syawal sementara Muhammadiyah sendiri sudah mempunyai ketetapan,” katanya kepada Belajar Muhammadiyah mewakili jamaah tarekat terbesar Qadiriyah-Naqsabandiyah.

Belajar Muhammadiyah

Menurut H Hasanudin, pengumuman tersebut memang hanya ditujukan kepada warga Muhammadiyah sendiri. “Tapi mereka adalah warga negara Indonesia yang mestinya dianjurkan untuk taat pada keputusan Pemerintah Indonesia demi kesatuan dan persatuan,” katanya. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat Belajar Muhammadiyah

Minggu, 18 Februari 2018

Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum!

Jakarata, Belajar Muhammadiyah

Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menerima vonis  dua tahun penjara dari Majelis Hakim setelah dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan penodaan agama. Usai pembacaanputusan Ahok bersama tim penasihat hukum bersepakat untuk mengajukan banding.

Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum! (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum! (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahok Divonis Dua Tahun, PBNU: Hormati Proses Hukum!

Terkait proses hukum tersebut, Ketua PBNU Bidang Hukum Robikin Emhas berkomentar, sebagai negara hukum, siapa pun harus tunduk dan patuh terhadap hukum. Hal ini sesuai dengan prinsip supremasi hukum. Untuk itu, apa pun putusan hakim, katanya, harus dihormati.

“Sebaliknya, seluruh pihak juga harus memberikan penghormatan yang sama kepada Pak Ahok atas upaya hukum banding yang dilakukan dalam mengekspresikan keberatannya terhadap putusan pengadilan,” katanya dalam siaran pers, Selasa (9/5).

Belajar Muhammadiyah

Ia mengimbau kepada masyarakat agar tak mengeluarkan hujatan atau cibiran terhadap warga negara yang menggunakan hak hukumnya atas suatu proses peradilan. Karena hal itu merupakan pengejawentahan terhadap prinsip kesetaraan di mata hukum sebagaimana dijamin konstitusi.

“Di lain pihak, biarkan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta selaku judex facti menjalankan fungsi judiciary secara bebas dan tidak memihak (independent and impartial judiciary) dalam memeriksa dan mengadili perkara tersebut di tingkat banding nantinya,” tambahnya.

Belajar Muhammadiyah

Menurutnya, kesanggupan menghargai rangkaian proses hukum yang berjalan adalah bagian dari ketaatan terhadap hukum itu sendiri. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Lomba, Sunnah Belajar Muhammadiyah

Senin, 12 Februari 2018

As’ad Said: NU Lokal Hidup, Geliat Gerombolan Radikal Meredup

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali meyakini kekuatan NU di dalam menjaga ketenteraman beragama di tengah masyarakat. Bagi As’ad, syiar NU yang meliputi segala sisinya di suatu daerah dengan sendirinya membuat kecil panggung kelompok kecil yang radikal di masyarakat.

As’ad Said: NU Lokal Hidup, Geliat Gerombolan Radikal Meredup (Sumber Gambar : Nu Online)
As’ad Said: NU Lokal Hidup, Geliat Gerombolan Radikal Meredup (Sumber Gambar : Nu Online)

As’ad Said: NU Lokal Hidup, Geliat Gerombolan Radikal Meredup

“Kalau NU setempat itu hidup dan bergerak, mereka akan kesempitan ruang gerak,” kata As’ad dalam sambutan pembukaan Workshop Penguatan Jaringan Anti-Radikalisme di Dunia Maya untuk Ulama Muda bertempat di Hotel Acacia, Jakarta, Senin (15/6) malam.

Ia menceritakan pengalamannya soal perkembangan kelompok radikal di kawasan Solo Raya yang meliputi Sragen, Klaten, Wonogiri, Boyolali, Karanganyar, dan Sukoharjo.

Belajar Muhammadiyah

“Ketika mereka mulai menggeliat, saya bertanya bagaimana gerakan NU di sana? Ternyata NU-nya selama ini tidak ada berwujud. Inilah salah satu sebab mereka lebih leluasa bergerak,” kata As’ad.

Belajar Muhammadiyah

Setelah itu, As’ad mengundang pengurus-pengurus NU yang sedang vakum itu ke Jakarta. Di sini, mereka didorong dan dibekali untuk menggerakkan NU setempat.

“Saya minta mereka untuk memasang plang-plang NU. Cepat berkoordinasi dengan aparat pemerintah setempat karena ini bibit bahaya bersama. Alhamdulillah, NU-nya jalan, mereka berangsur surut. Pokoknya, kalau NU lemah, mereka leluasa bergerak,” tandas As’ad. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Pendidikan Belajar Muhammadiyah

Sabtu, 10 Februari 2018

Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan

Cirebon, Belajar Muhammadiyah - Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Cirebon yang dinakhodai langsung oleh Ketua Umum NU KH Said Aqil Siroj memberikan beasiswa pendidikan pada penerimaan mahasiswa baru tahun 2016-2017. Pihak kampus? ini mengobral beasiswa untuk calon mahasiswa baru yang memenuhi tiga kriteria persyaratan.

Calon mahasiswa UNU Cirebon penerima beasiswa tahun ini adalah mereka yang hafal minimal empat juz Al-Quran, mereka yang berprestasi, dan mereka yang tidak mampu dan aktif kegiatan kemahasiswaan.

Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Universitas NU Cirebon Obral Beasiswa Pendidikan

Demikian disampaikan Wakil Rektor UNU Cirebon Bidang Kemahasiswaan dan Pengabdian Masyarakat Dr KH Moh Badrussalam Shof. Menurut Doktor Bidang Kurikulum dan Metodologi Pengajaran alumnus Omdurman Islamic University Sudan ini pada acara rutinan di Masjid Kampus 2 UNU Cirebon Jalan Dr Cipto, Selasa (10/5) malam.

Belajar Muhammadiyah

Menurut mantan Rais Syuriyah PCINU Sudan ini, hal yang menarik adalah bahwa untuk beasiswa katagori penghafal Al-Quran pihak kampus tidak mengharuskan peserta hafal 30 juz seperti diberlakukan perguruan tinggi lain. UNU Cirebon akan tetap memberikan beasiswa pendidikan bagi mereka yang hafal minimal empat juz Al-Quran.

Belajar Muhammadiyah

"Siapa saja yang sudah hafal minimal empat juz bisa ikut tes mendapatkan beasiswa penghafal Al-Quran," tegas Kang Badrus yang mengemban amanah sebagai Ketua Panitia Penerimaan Mahasiswa Baru UNU Cirebon. (Abfalaka/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Kajian, Berita Belajar Muhammadiyah

Senin, 05 Februari 2018

Fatayat NU Gandeng Pemerintah Gelar Diseminasi Gelatik

Jakarta, Belajar Muhammadiyah 

Pimpinan Pusat Fatayat Nahdlatul Ulama bekerja sama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia (Kemen-PPPA) menggelar kegiatan Gerakan Perlindungan Anak dari Tindak Kekerasan (Gelatik) dengan tajuk "Penanganan Eksploitasi Anak di Kabupaten Lampung Timur, Brebes, dan Simalungan" di Hotel Sofyan Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (15/12).

Hadir pada kegiatan ini, Ketua Umum PP Fatayat NU Anggia Ermarini, Sekretaris Umum PP Fatayat NU Margaret Aliyatul Maimunah, Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim, Plt Deputi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Rosmayanti, Dosen Universitas Syarif Hidayatullah Jakarta Alai Najib, dan lain-lain. 

Fatayat NU Gandeng Pemerintah Gelar Diseminasi Gelatik (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Gandeng Pemerintah Gelar Diseminasi Gelatik (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Gandeng Pemerintah Gelar Diseminasi Gelatik

Anggi mengatakan bahwa Gelatik merupakan salah satu skema yang dipromosikan Fatayat NU. Sampai hari ini, Fatayat NU baru mempunyai tiga kabupaten yang menjadi pilot project, yaitu Brebes, Lampung Timur, dan Simalungan. 

Menurutnya, keberadaan Gelatik sangat penting tidak hanya bagi Fatayat NU, namun bagi masyarakat luas untuk bisa meniru, beradaptasi, melakukan pendekatan-pendekatan yang sudah dilakukan di lapangan, terutama perlindungan terhadap anak yang berbasis komunitas dan masyarakat. 

Kader Fatayat NU sendiri, kata Anggia selalu bersama masyarakat, bahkan menjadi tempat bertanya dalam banyak hal, khususnya dalam gerakan perlindungan perempuan dan anak. 

Belajar Muhammadiyah

Perempuan kelahiran Sragen, Jawa Tengah ini pun sempat mengungkapkan bahwa lahirnya Fatayat NU tidak bisa dilepaskan dari semangat untuk kepentingan dan keberpihakan terhadap perempuan dan anak. 

"Keberpihakan kita kepada anak dan perempuan sudah lama. Bahkan semenjak lahirnya Fatayat NU," katanya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Sholawat Belajar Muhammadiyah

Jumat, 26 Januari 2018

Media Wahabi Ancaman Nyata bagi Indonesia

Surabaya, Belajar Muhammadiyah - Era keterbukaan yang dinikmati bangsa ini ternyata menyisakan sejumlah permasalahan. Derasnya akses informasi yang diterima masyarakat dengan sangat mudah, pada gilirannya mengancam bangunan kebangsaan kita.

"Masyarakat saat ini disuguhkan dengan tayangan televisi berbasis satelit serta relay radio Salafi Wahabi yang muatannya cukup memprihatinkan," kata Ketua Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (PW LTN NU) Jawa Timur Ahmad Najib AR usai rapat pleno, Sabtu (11/3) petang.

Media Wahabi Ancaman Nyata bagi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Wahabi Ancaman Nyata bagi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Wahabi Ancaman Nyata bagi Indonesia

Ia menyebut beberapa media Wahabi yang jumlahnya puluhan dan rata-rata mengudara melalui televisi satelit, termasuk juga radio dakwah yang tersebar di berbagai daerah.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Gus Najib, masyarakat saat ini tengah dihadapkan pada suasana yang serba dilematis. "Dengan alasan demokrasi, maka masyarakat bisa mengakses sejumlah informasi secara terbuka, termasuk keberadaan radio dan televisi satelit," ungkapnya.

Akan tetapi, tidak sedikit acara yang disiarkan ternyata justru mengancam eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI, lanjutnya.

Belajar Muhammadiyah

Alumnus pascasarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini kermudian menyebutkan sejumlah ajaran Wahabi yang tidak sesuai dengan NKRI. "Dakwah mereka kerap menebar kebencian kepada kelompok lain, tidak toleran, bertentangan dengan nilai-nilai Islam yang ramah dan rahmatan lil alamin," ungkapnya.

Banyaknya konflik di akar rumput kerap diawali dengan ujaran kebencian yang disampaikan kalangan yang beraliran Wahabi. "Dari mulai ceramah agama, juga status di media sosial, tidak jarang yang menyebarkan ajaran tendensius yang meresahkan bahkan berpotensi mengakibatkan perpecahan di masyarakat. Belum lagi banyak ajaran kalangan ini yang berlawanan dengan Pancasila," lanjutnya.

Yang memprihatinkan, ajaran Wahabi? itu disampaikan lewat sejumlah televisi satelit maupun radio berjejaring. "Apalagi dari segi regulasi, selama ini belum ada aturan yang memberikan pengawasan terhadap isi siaran dari televisi satelit tersebut," katanya.

Gus Najib berharap agar pemerintah melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap media Wahabi tersebut. "Kalau kepada media yang memiliki izin siar resmi, pemerintah demikian selektif dan ketat, hal serupa juga harus diberikan kepada media beraliran Wahabi yang banyak mengudara di TV satelit tersebut," harapnya.

Karena kalau hal tersebut tidak dilakukan, bukan tidak mungkin integrasi bangsa akan terancam. "Taruhannya terlalu mahal, yakni eksistensi NKRI," sergahnya. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat, Anti Hoax, Warta Belajar Muhammadiyah

Rais Aam PBNU Sampaikan Ceramah Maulid di Bandung Barat

Bandung Barat, Belajar Muhammadiyah. Dalam kehidupan sehari-hari kita harus terus berpegang kepada Kaidah Nahldatul Ulama ‘Al-Muhafadhotu Alal Qadimishalih Wal Akhdhu Bijadidil Ashlah’  yakni menjaga nilai-nilai yang baik dan mengambil nilai-nilai baru yang lebih baik harus terus dilaksanakan oleh Jam’iyyah dan Jama’ah NU.

Rais Aam PBNU Sampaikan Ceramah Maulid di Bandung Barat (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Sampaikan Ceramah Maulid di Bandung Barat (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Sampaikan Ceramah Maulid di Bandung Barat

Demikian pesan penting dalam taushiyah disampaikan Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, senin (4/1) di Mesjid Al-Irsyad Kotabaru Parahyangan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Rais Aam menjelaskan, sekarang ini banyak aliran sempalan, pemikiran radikal yang mengganggu umat muslim di Indonesia. Pemikiran garis keras muncul dari pemahaman agama yang dangkal, pemikiran yang selalu melihat ajaran agama secara tekstual, tidak mau melihat pendapat para ulama salaf. 

Belajar Muhammadiyah

“Para ulama selalu berijtihad karena tidak semua perilaku kehidupan ini ada teks Qur’annya. Selama itu menyangkut perbedaan paham atau madzhab itu ditoleransi oleh MUI atau PBNU, tapi jangan sekali-sekali membuat hal penyimpangan agama karena hal itu harus disingkirkan. Perbedaan pendapat harus ditoleransi dan penyimpangan harus diamputasi,” paparnya.

Belajar Muhammadiyah

Menurut Rais Aam, untuk menjembatani itu, NU mempunyai prinsip tawasuth dan tasamuh. Mempunyai pemikiran moderat ditengah-tengah perbedaan pendapat. Pemikiran yang mengedepan mashlahat, tidak keras dan juga tidak bebas. 

Dalam bahasa agama Qaulan Layyina. Harus lembut cara menyampaikan pendapat dan isi pendapat tersebut disampaikan dalam bahasa lembut pula. Islam lahir di Indonesia begitu beragam, dan keberagaman dalam beragama saat ini NU menyebutnya dengan istilah Islam Nusantara. 

“Artinya Islam yang mengakui perbedaan dan keberagaman madzhab. Islam lahir apa adanya dari budaya leluhur yang tidak bertentangan secara Aqidah. Perbedaan pendapat jangan mudah disebut bid’ah. Perbedaan adalah baik dan yang bid’ah adalah telunjuk mereka yang suka tunjuk orang semaunya,” tandasnya.

Karena itu menurut Rais Aam, inti dari acara Maulid ini, harus terus menjaga persatuan, ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, dan ukhuwah insaniyyah.  

Peringatan maulid ini terselenggara atas kerjasama pihak DKM Al-Irsyad Kotabaru dengan MUI KBB, PCNU KBB, Aliansi Ormas KBB, Kementerian Agama KBB dan Yayasan Kotabaru Parahyangan. Hadir Ketua PCNU KBB,  H Agus Mulyadi, Bupati KBB, H Abu Bakar, dan para Asisten serta jajaran dari Pemkab Bandung Barat. Kepala Kemenag KBB, H Asep Ismail, Ketua MUI KBB KH Mohammad Ridwan, dan Rais Syuriyah PCNU KBB KH Aa Maulana. (Saprudin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Sholawat Belajar Muhammadiyah

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock