Kamis, 14 Desember 2017

Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah. Salah seorang Redaktur Majalah Bangkit NU Daerah Istimewa Yogyakarta atas nama Ahmad Suhendra meraih predikat sebagai peneliti terbaik ketika ikut berpartisipasi dalam penelitian tentang Jemaat Ahmadiyah di kampung Gondrong, Tangerang, Banten tanggal 21-23 Mei 2015.

Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)
Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya (Sumber Gambar : Nu Online)

Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya

Penelitian yang diadakan Institute Of Southeast Asian Islami (ISAIS) UIN Sunan Kalijaga tersebut diikuti 20 peneliti dari UGM, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, UIN Jakarta dan STAIN Jember. ISAIS merupakan lembaga yang fokus mengkaji Islam di Asia Tenggara milik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Dengan mengambil judul “Khilafah dan Nation State: Studi Jemaat Ahmadiyah di Indonesia di Kampung Gondrong, Tangerang, Banten”, Hendra, sapaan akrabnya, meraih peneliti terbaik dan berkesempatan mempresentasikan papernya di Gedung Rektorat Baru UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu Siang (10/6).

Belajar Muhammadiyah

Dalam presentasinya, Hendra mengungkapkan bahwa khilafah yang diusung oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) tidak bertentangan dengan nation state seperti NKRI.

“Konsep khilafah itu ternyata maknanya tidak tunggal. Khilafah dalam pemahaman sahabat-sahabat Ahmadiyah misalnya, bermakna kepemimpinan spiritual (ruhani) yang menjalankan semata-mata misi keruhanian. Jadi khilafah dalam pemahaman Ahmadiyah bisa berjalan selaras dengan konsep negara bangsa. Makanya, Jemaat Ahmadiyah ini bisa tinggal di mana saja, seperti di Indonesia ini,” ujar Hendra di hadapan peserta.

Belajar Muhammadiyah

JAI, lanjut Hendra, tidak mempermasalahkan sistem negara yang berjalan, entah itu demokrasi liberal, demokrasi Pancasila atau yang lainnya, yang terpenting negara bisa menjamin hak-hak semua warganya.

Oleh karena itu, Khilafah model JAI bisa menjadi salah satu pendukung tetap tegaknya NKRI ke depan, karena tidak berafiliasi pada sistem politik seperti khilafah yang diusung oleh HTI dan ISIS.

Ditanya mengenai kiatnya bisa meraih peneliti terbaik, Hendra hanya menyunggingkan senyumnya dan menjawab singkat, “ini berkah Majalah Bangkit,” tandasnya.

Selain Hendra, peneliti terbaik juga diraih oleh Adrika Fithrotul Aini. Mahasiswi asal Jombang Jawa Timur yang kini meneruskan studi di Pasca Sarjana UIN Sunan Kalaijaga tersebut mengambil tema “Pemahaman Khilafah  dan Internalisasinya dalam Jemaah Ahmadiyah Gondrong Tangerang Banten. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)

Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya

 

Yogyakarta, Belajar Muhammadiyah

Salah seorang Redaktur Majalah Bangkit NU Daerah Istimewa Yogyakarta atas nama Ahmad Suhendra meraih predikat sebagai peneliti terbaik ketika ikut berpartisipasi dalam penelitian tentang Jemaat Ahmadiyah di kampung Gondrong, Tangerang, Banten tanggal 21-23 Mei 2015.

 

Penelitian yang diadakan Institute Of Southeast Asian Islami (ISAIS) UIN Sunan Kalijaga tersebut diikuti 20 peneliti dari UGM, Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, UIN Jakarta dan STAIN Jember. ISAIS merupakan lembaga yang fokus mengkaji Islam di Asia Tenggara milik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

Dengan mengambil judul “Khilafah dan Nation State: Studi Jemaat Ahmadiyah di Indonesia di Kampung Gondrong, Tangerang, Banten”, Hendra, sapaan akrabnya, meraih peneliti terbaik dan berkesempatan mempresentasikan papernya di Gedung Rektorat Baru UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Rabu Siang (10/6).

 

Dalam presentasinya, Hendra mengungkapkan bahwa khilafah yang diusung oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) tidak bertentangan dengan nation state seperti NKRI.

 

“Konsep khilafah itu ternyata maknanya tidak tunggal. Khilafah dalam pemahaman sahabat-sahabat Ahmadiyah misalnya, bermakna kepemimpinan spiritual (ruhani) yang menjalankan semata-mata misi keruhanian. Jadi khilafah dalam pemahaman Ahmadiyah bisa berjalan selaras dengan konsep negara bangsa. Makanya, Jemaat Ahmadiyah ini bisa tinggal di mana saja, seperti di Indonesia ini,” ujar Hendra di hadapan peserta.

 

JAI, lanjut Hendra, tidak mempermasalahkan sistem negara yang berjalan, entah itu demokrasi liberal, demokrasi Pancasila atau yang lainnya, yang terpenting negara bisa menjamin hak-hak semua warganya.

 

Oleh karena itu, Khilafah model JAI bisa menjadi salah satu pendukung tetap tegaknya NKRI ke depan, karena tidak berafiliasi pada sistem politik seperti khilafah yang diusung oleh HTI dan ISIS.

 

Ditanya mengenai kiatnya bisa meraih peneliti terbaik, Hendra hanya menyunggingkan senyumnya dan menjawab singkat, “ini berkah Majalah Bangkit,” tandasnya.

 

Selain Hendra, peneliti terbaik juga diraih oleh Adrika Fithrotul Aini. Mahasiswi asal Jombang Jawa Timur yang kini meneruskan studi di Pasca Sarjana UIN Sunan Kalaijaga tersebut mengambil tema “Pemahaman Khilafah  dan Internalisasinya dalam Jemaah Ahmadiyah Gondrong Tangerang Banten. (Nur Rokhim/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Kajian Sunnah, Santri, Berita Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah. Redaktur Majalah Bangkit Peneliti Terbaik UIN Yogya di Belajar Muhammadiyah ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock