Kamis, 21 Desember 2017

Meneladani Dakwah Sunan Ampel

Surabaya, Belajar Muhammadiyah

Sabtu tanggal 13 Mei 2017 bertepatan dengan 16 Syaban 1438 H merupakan puncak acara Haul Agung Sunan Ampel. Kegiatan pada hari kedua ini dimulai dari bada Subuh dengan khataman Al-Quran bil ghoib yang bertempat di Masjid Agung Sunan Ampel bangunan lama (pria) dan bangunan baru (wanita).

Pada sore harinya, bada Ashar, diadakan kirab dari Kampung Margi menuju Makam Sunan Ampel. Rangkaian agenda haul Sunan Ampel itu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Yasin dan Tahlil yang dipusatkan di kawasan maqbaroh Sunan Ampel, Surabaya.

Berikutnya acara pembacaan napak tilas Sunan Ampel oleh ? Habib Luthfi bin Yahya, bertempat di Makam Sunan Ampel. Setelah isya, ada pengajian umum di bangunan lama Masjid Agung Sunan Ampel.

Meneladani Dakwah Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneladani Dakwah Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneladani Dakwah Sunan Ampel

Habib Luthfi tepat di samping pusara Raden Rahmat, nama Sunan Ampel, menyampaikan dengan sangat tegas bahwa jangan coba-coba menghancurkan Indonesia selagi masih ada Sunan Ampel, Walisongo dan para ulama.

"Sunan Ampel sudah ratusan tahun meninggalkan kita. Tapi beliau mampu mempersatukan bangsa. Mampu meningkatkan perekonomian umat," lanjut Habib Luthfi.

Belajar Muhammadiyah

Masyarakat dihimbau agar selalu mengingat pesan dan meninjau sejarah yang pernah dilakukan oleh para Walisongo saat syiar agama Islam di Tanah Air yang penuh kedamaian.

Selain ribuan umat Islam dari Surabaya dan daerah lainnya, tampak hadir juga Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin, pengurus PWNU Jatim dan beberapa masyayikh dan habaib yang lain.

Belajar Muhammadiyah

"Saya sangat bersyukur berkesempatan hadir dalam acara haul Sunan Ampel yang ke 568. Ini tentu tradisi yang sangat baik, terus dijaga, mudah-mudahan kita terus mendapat berkah," kata Menag di Makam Sunan Ampel, Sabtu (13/5) sore.

Menilik sejarah panjang penuh dengan keindahan tersebut, dari sunan Ampel dan walisongo masyarakat dan bangsa, saatnya semua untuk belajar menyatukan umat terkait peneguhan identitas diri, harmoni kehidupan keagamaan dan kebangsaan.

Islam yang dibawa oleh Walisongo tidak mengajarkan kemarahan, tetapi keramahan; tidak memukul, tetapi merangkul; tidak mengejek, tetapi mengajak; tidak eksklusif (tertutup/kaku), tetapi inklusif (terbuka/luwes); dan tidak menggurui, namun menjamui.(Rof Maulana/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah Jadwal Kajian, Fragmen Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah. Meneladani Dakwah Sunan Ampel di Belajar Muhammadiyah ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock