Kamis, 20 Februari 2014

Lakpesdam PBNU Bahas Konsinyering untuk Penyelesaian Problem Diskriminasi

Jakarta, Belajar Muhammadiyah

Bertempat di Gedung PBNU, diselenggarakan Konsinyering Penyelesaian Problem Diskriminasi, Intoleransi dan Kekerasan Berbasis Agama dan Kepercayaan, Kamis (28/4).

Lakpesdam PBNU Bahas Konsinyering untuk Penyelesaian Problem Diskriminasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam PBNU Bahas Konsinyering untuk Penyelesaian Problem Diskriminasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam PBNU Bahas Konsinyering untuk Penyelesaian Problem Diskriminasi

Forum ini terselenggara atas kerja sama Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Lakpesdam PBNU) dengan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI, Australian Aid, Program Peduli, Satunama, dan The Asia Foundation.

Forum diadakan untuk membantu pemerintah dalam menyelesaikan pelbagai problem diskriminasi, intoleransi dan kekerasan yang mengatasnamakan agama dan kepercayaan.?

Forum dibuka oleh Ketua PBNU, Prof Maksoem Mahfoedz, dihadiri sejumlah nara sumber yaitu Ketua PBNU H Imam Aziz, Kepala Intelejen Mabes Polri Drs Nur Ali, Bimas Islam Kemenag Dr Khairuddin, Wigati (Kasubdit Kepercayaan Kemendikbud), Novi Soegiharti (mewakili Dirjen HAM Bagian Kerjasama), Prof DR Syihabuddin dari Kementerian Sosial, dan Direktur Jenderal dan Pemberdayaan Masyarakat Desa Ahmad Erani Yustika.

Belajar Muhammadiyah

H Imam Aziz antara lain menyampaikan modal utama untuk mengatasi persoalan diskriminasi dan intoleransi atas ? nama agama adalah negara tidak boleh mengeluarkan fatwa sesat terhadap suatu golongan.

Sementara Prof DR Syihabuddin dari Kementerian Sosial mengatakan bahwa di Indonesia ada tiga jenis bencana, yaitu bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. Untuk mengatasi bencana sosial yang berwujud intoleransi dan diskriminasi perlu dilakukan dua pendekatan yaitu mengedepankan kearifan lokal dan alat kesenian.?

“Masyarakat Sunda mempunyai moto silih asih, silih asih dan silih asuh. Demikian juga masyarakat Padang, Sulawesi Selatan dan sebagainya memiliki kearifan lokal. Ini yang perlu ditumbuhkan lagi,” ujar Syihabuddin.

Belajar Muhammadiyah

Adapun Jenderal Nur Ali berpendapat dalam upaya mencegah intoleransi, diskriminasi dan intimidasi yang penting dilakukan adalah dengan pendekatan kepada tokoh dari kelompok pelaku intoleransi, diskriminasi dan intimidasi tersebut.

“Bila dengan masyarakat adat, pendekatannya adalah dengan tokoh masyarat atau tetua adat. Bila dengan kelompok preman, maka harus pendekatan dengan ketua preman,” kata Nur Ali.

Nur Ali juga menyampaikan hampir semua persoalan besar dimulai dari hal kecil. Dari situ koordinasi antara masyarakat dan kepolisian harus dimaksimalkan.?

Hal yang juga penting menurut Nur Ali adalah kita harus memanusiakan pihak-pihak yang berpotensi didiskriminasi. Serta jangan terjebak pada masalah. Tetapi harus yakin bahwa dari masalah ? yang ada bisa diambil perbaikan-perbaikan ke depan. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah RMI NU, Budaya Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah. Lakpesdam PBNU Bahas Konsinyering untuk Penyelesaian Problem Diskriminasi di Belajar Muhammadiyah ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock