Sabtu, 28 Oktober 2017

NU Tidak bergesar ke Kiri dan ke Kanan

Jakarta, Belajar Muhammadiyah. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai institusi tidak pernah bergeser ke kiri maupun ke kanan. Dalam memikul tanggung jawab keagamaan maupun kebangsaaan NU selalu berada di atas landasan Fikrah Nahdliyyah (kerangka berfikir NU) yang telah disepakati sejak lama.

Hal itu disampaikan Rais Syuriah NU KH. Ma’ruf Amin saat membuka Halaqoh II Pra-Musyawarah Nasional Alim Ulama (Munas) dan Konferensi Besar PBNU (Konbes) bertema “Meneguhkan Kembali Khittah NU 1926” di Jakarta, Sabtu (8/7). Ma’ruf Amin memberikan sambutan sebagai Ketua Panitia Pelaksana Munas dan Konbes yang akan diadakan pada 27-30 Juli nanti.

NU Tidak bergesar ke Kiri dan ke Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Tidak bergesar ke Kiri dan ke Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Tidak bergesar ke Kiri dan ke Kanan

Menurut Ma’ruf, pergeseran memang ada dan terjadi pada tahun 1990-an ketika sebagian warga nahdliyyin agak konservatif dalam merespon berbagai perkembangan zaman. Waktu itu, para kiai hanya berpatokan pada kitab-kitab yang ada di pesantren dan cenderung tidak berani bersikap ketika beberapa realitas tidak diekspos secara jelas dalam kitab-kitab itu.

“Tapi itu segera berakhir ketika pada Munas dan Konbes NU Tahun 1992 di Lampung para ulama menyepakati adanya pendekatan manhajiyyan (metodologis) dan tidak hanya qoulan (tekstual). Ada dinamisasi di sini. Upaya ini kita sebut sebagai tajdidu fikrah an-nahdliyyah (pembaharuan kerangka berfikir NU),” kata Ma’ruf.

Dikatakannya, pergeseran dalam tubuh NU justru terjadi dalam pola pikir warga nahdliyyin. Saat ini warga nahdliyyin, dalam hal ini kalangan mudanya, telah mengalami dinamisasi yang kebablasan. “Kalangan muda NU telah bergeser ke kiri menuruti arus liberalisasi,” katanya.

Belajar Muhammadiyah

Ketua Dewan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menambahkan, Fikrah Nahdliyah seharusnya telah menjadi fikrah alamiyah atau kerangka berfikir yang universal. “Sayangnya kita sekarang banyak yang minder, tidak percaya diri, dan lebih senang menjadi importir gagasan,” katanya.

Halaqoh II Pra-Munas dan Konbes itu dihadiri, antara lain, Rais Syuriah PBNU KH. Aziz Mashuri dan KH. Maghfur Utsman, Rais Aam Syuriah PWNU Jawa Tengah KH. Masruri Abdul Mughni, Rais Syuriah PWNU Banten KH. Ahmad Syatori, dan para utusan wilayah, serta ketua lembaga, lajnah dan badan otonom NU. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah Anti Hoax, Warta, Hadits Belajar Muhammadiyah

Belajar Muhammadiyah. NU Tidak bergesar ke Kiri dan ke Kanan di Belajar Muhammadiyah ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Belajar Muhammadiyah sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Belajar Muhammadiyah. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Belajar Muhammadiyah dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock